Free Download Mp3 Gratis

Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

3.10.2011

REVOLUSI,

Bisa dimulai dengan ”menerima kondisi apa adanya”

Revolusi, satu kalimat dengan beragam makna. Tergantung orang yang ingin memakainya, karena pada dasarnya penggunaan kalimat itu hanya sekedar perjanjian dunia untuk memudahkan manusia memberi pemahaman pada orang yang diajak berkomunikasi. Sama halnya dengan rumusan standar yang dipakai oleh komunitas eksakta dalam memberi identifikasi pada sebutan 1 meter, 1 kg, 1 detik dsb.
Saya tidak sedang membahas apa makna sebenarnya dari revolusi, karena saya bukan ahli bahasa. Yang saya pahami, revolusi itu adalah suatu tindakan yang bisa menghasilkan suatu perubahan besar. Saya mengajak anda untuk sepaham dulu dengan saya.
Setelah itu, mari kita coba membuat satu analisa sederhana, kira-kira tindakan apa saja dan tindakan yang bagaimana yang bisa membuat kita mengalami revolusi itu.

Ini sekedar cerita,
Barangkali bisa menginspirasi panjenengan semua untuk memaknai revolusi itu sama seperti saya memaknainya. Bukan bermaksud intervensi pemikiran, tapi barangkali cocok untuk anda terapkan dalam kehidupan anda sendiri. Saya tidak bisa mengungkapkan sesuatu seperti yang lain dengan bahasa yang lebih akademis, karena saya ini seorang ibu rumah tangga, yang hanya bisa ngetik pake ms-word.
Selama 7 tahun menjadi pengurus di sebuah lembaga pendidikan setingkat madrasah ibtidaiyah di desa saya, saya telah mengalami 4 kali pergantian kepala sekolah, 4 kali mengeluarkan surat pe-non-aktifan untuk dewan guru dengan beragam konflik yang menyertai pemberhentian itu. Saya mengikuti setiap perkembangan konflik yang terjadi, karena saya berada dalam posisi sebagai sekretaris pengurus, dimana setiap surat penonaktifan itu saya yang harus mengkonsep, mengetik, dan lalu menandatanganinya serta menyerahkan kepada yang bersangkutan.
Kesimpulan saya sekarang ini adalah, saya tidak merubah apapun dengan merubah komposisi personal. Baik itu kinerja apalgi peningkatan kualitas pendidikan.
Saya mengajak anda untuk menganalogkan kondisi sistem penataan personalia di madrasah saya ini dengan sistem penataan personalia yang ada di republik Indonesia tercinta ini.
Sama. 10 tahun lalu kita menggembar-gemborkan reformasi. Ok. Sudah terjadi dan sudah berjalan, sayangnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh beberapa orang, termasuk guru kita, Cak Nun yang pada akhirnya kecewa dengan reformasi itu sendiri.
Sekarang beliau mencoba menggugah kita dengan REVOLUSI. Saya berfikir itu adalah satu bentuk persuasi kekecewaan pada kondisi yang ada. Tapi kemudian saya berfikir lain. Konsep revolusi yang bagaimana yang diharapkan? Cak Nun sendiri ketika dihadapkan pada satu kondisi real menganggap bahwa apa yang kita lakukan ini sepi. Kita tidak punya corong untuk mengatakan pada dunia tentang gerakan revolusi yang kita lakukan. Sehingga revolusi yang dicanangkan kembali menjadi agenda pembicaraan saja. Bukan sebagai juklak dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari.
Sebenarnya saya tidak setuju dengan yang dikatakan oleh Cak Nun dengan kalimat sepi itu. (tapi saya punya prasangka baik kepada beliau, bahwa kalimat itu dilontarkan karena ingin mengajak kita semua berbuat sesuatu, do it something, sekecil apapun perbuatan itu tapi bisa membuat perubahan yang sangat besar).
Saya hanya ingin berbagi dengan panjenengan semua. Pengalaman saya memberhentikan 3 Kepala Sekolah, 4 Dewan Guru itu menjadi awal sebuah pemikiran revolusi terbesar bagi saya. Saat ini saya mempunyai (nuwun sewu) KS yang lebih kopler dari 3 KS sebelumnya. Tetapi ketika pengurus yang lain ingin mengganti KS itu dengan orang lain, saya sendiri yang tidak setuju dengan hal itu. Saya akan mempertahankan keberadaannya, semampu saya. Disini peran revolusi membuat satu bentuk perubahan yang benar-benar bisa saya rasakan. Berapa kali kita mengadakan rapat, beradu argemen, bahkan melekan berhari-hari hanya untuk sekedar memutuskan siapa yang layak dijadikan sebagai KS. Lalu beberapa saat, setelah hasil yang diharapkan tidak sesuai, kita mengadakan rapat lagi, menonaktifkan KS dan lalu mencari mangsa lain. Sebenarnya, secara pribadi saya capek dengan birokrasi ini. Sama capeknya ketika kita harus kembali mendatangi TPS untuk memilih orang, bukan memilih sistem. Capek deh!
Lalu apa yang harus kita lakukan? Saya ada pengalaman.
Untuk menentukan siapa yang terpilih sebagai KS saja, saya harus berlelah-lelah, mengundang orang, menyiapkan konsumsi, memimpin rapat, beradu argumen, lalu mengambil keputusan dengan perasaan agak ketar-ketir apakah keputusan yang sudah saya buat ini benar atau salah?
Kemarin, setelah saya mengetahui bahwa KS pilihan kami tidak seindah warna aslinya. Sederet inventaris kesalahan ada di atas meja kerja saya, mulai indisipliner, penggunaan dana sekolah untuk hal pribadi, dan beberapa sifat dan sikap yang tidak masuk kategori kompeten sebagai KS, saya masih tetap berusaha keras untuk memeliharanya sebagai KS. Uji coba saya pada Kekuatan Revolusi yang dicanangkan oleh Cak Nun menjadi kekuatan tersendiri bagi saya untuk mensupport kebijakan yang saya lakukan. Berapa kali kita mengganti personel, berapa kali kematian hati nurani untuk meng-orangkan orang (dalam bahasa GusLuthfi, memanusiakan manusia), berapa kali saya harus mengawali tersenyum lebih dahulu jika kebetulan saya bertemu dengan mereka yang pernah saya non aktifkan, dengan kondisi tidak pernah mendapat senyuman balasan. Iya kalau di Pasar Turi ada stand khusus yang menjual kesabaran dan lapang dada, sedang kenyataannya Pasar Turi-nya saja sudah tidak sanggup mempertahankan dirinya sendiri. Saya kan juga bisa punya dendam hanya lantaran senyum saya tidak dibalas. Minimal, muncul kalimat, awas koen yo! Kalau sudah demikian, kita mau hidup dalam sistem apa?
Sudahlah dulur, ayo kita berhenti untuk melihat siapa orangnya, tapi kita akan berrevolusi yang sebenarnya jika kita mulai belajar menerima keadaan ini apa adanya. Mungkin benar, orang jawa punya survival lebih tinggi dibanding yang lain, karena kemampuan mereka hidup dalam kondisi apapun. Inilah revolusi yang sebenarnya.
Mau merubah dunia dengan mengganti personal? bisa jadi anda telah melakukan mosi tidak percaya terhadap keputusan Allah. Padahal sebegitu indahnya Allah memberikan susunan kepengurusan pada dunia ini. Manusia, yang disertakan didalamnya kekurangan-kekurangan dan kekurangajaran-kekurangajaran manusia itu sendiri.
Apa yang saya lakukan ketika saya mendapati KS yang saya pilih ternyata lebih kopler dari sebelumnya?saya berusaha melakukan tugas saya untuk menjadi supervisor yang baik, dengan cara memberikan contoh bagaimana melakukan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Saya berusaha menjadi pekerja yang ikhlas membantu meringankan pekerjaan yang tidak sanggup dia lakukan, walaupun secara struktural saya harus jadi juragannya. Saya berusaha menjadi kontroler ketika dia melakukan kesalahan-kesalahan sehingga membantunya untuk memperkecil kesalahan. Ada hasilnya? Iya, keindahan memanusiakan manusia saya dapatkan, kinerja pendidikan saya dapatkan juga seiring dengan pencapaian prestasi yang diraih oleh para siswa. Indah sekali.
Seandainya Indonesia punya keindahan seperti itu, rakyat sebagai pemilik sah republik ini, bertindak sebagai supervisor yang memberi contoh bagaimana hidup yang bersih, baik dan tidak menyakiti orang lain, rakyat bertindak sebagai pekerja yang membantu tugas-tugas negara yang demikian berat, serta mampu sekaligus menjadi kontroler terhadap apa saja yang menjadi tata laksana pemerintahan yang dapat memperkecil kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para pemimpin, dan mengikhlaskan kehidupan ini berjalan sesuai dengan garis dan ketetapan Allah, bukan berdasarkan karep dan keinginan manusia yang sering tidak logis. Itu revolusi terbesar kita. SEMOGA..

Continue reading →

2.27.2011

Kutipan Pidato Sukarno th 1960

”Beberapa tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan kita, maka

terjadilah di luar negeri, - kemudian juga meniup di angkasa kita -, apa

yang dinamakan “perang dingin”. Perang dingin ini sangat memuncak

pada kira-kira tahun 1950, malah hampir-hampir saja memanas menjadi

perang panas. Ia amat menghambat pertumbuhan-pertumbuhan

progresif berbagai negara. Tadinya, segera sesudah selesainya Perang

Dunia yang ke-II, aliran-aliran di mana-mana mulailah berjalan pesat.

“Tetapi pada kira-kira tahun 1950, sebagai salah satu penjelmaan

daripada perang dingin yang menghebat itu, aliran-aliran progresif

mudah sekali dicap “Komunis”.

Segala apa saja yang menuju angan-angan baru dicap “Komunis”.

Anti-kolonialisme – Komunis.

Anti exploitation de l’homme par l’homme – Komunis.

Anti-feodalisme – Komunis.

Anti kompromis – Komunis.

Konsekwen revolusioner – Komunis.

“Ini banyak sekali mempengaruhi fikiran orang-orang, terutama sekali

fikirannya orang-orang yang memang jiwanya kintel.

Dan ini pun terus dipergunakan (diambil manfaatnya) oleh orang-orang

Indonesia yang memang jiwanya jiwa kapitalis, feodalis, federalis,

kompromis, blandis, dan lain-lain sebagainya.

“Dus : Orang-orang yang jiwanya negatif menjadilah menderita penyakit

“takut kalau-kalau disebut kiri”,

“takut kalau-kalau disebut Komunis”.

Kiri-phobi dan komunisto-phobi membuat mereka menjadi konservatif

dan reaksioner dalam soal-soal politik dan soal-soal pembangunan

sosial-ekonomis.

Dan, orang-orang yang jiwanya memang objektif ingin menegakkan

kapitalisme dan feodalisme,

mengucapkan selamat datang kepada peng-cap-an kiri dan peng-cap-an

Komunis yang dipropagandakan oleh satu fihak daripada perang dingin itu.

“Sampai sekarang masih saja ada orang-orang yang tidak bisa berfikir

/secara bebas apa yang baik bagi rakyat Indonesia dan apa keinginan

Rakyat Indonesia,

melainkan à priori telah benci dan menentang segala apa saja yang

mereka sangka adalah kiri dan adalah “Komunis”

“Dua sebab subjektif dan objektif itumembuat beberapa golongan dari

Rakyat Indonesia menjadi konservatif dan reaksioner. anti-progresif dan

anti-revolusioner “

(kutipan dari halaman 406 dan 407 dari DBR – Di bawah Bendera Revolusi jilid II)

Menilik tulisan dan pidatonya, titik pusat perjuangan Soekarno adalah

membebaskan rakyat dari segala macam penindasan dan

penghisapan.

Hal yang demikian itu nampak jelas sekali dalam bagian lain pidatonya

itu, yang berbunyi sebagai berikut:

“Di Indonesia ini memang telah ada ada tiga golongan-besar “revolutionaire krachten”, yaitu Islam, Nasional, dan Komunis.

Senang atau tidak senang, ini tidak bisa dibantah lagi!

Dewa-dewa dari Kayanganpun tidak bisa membantah kenyataan ini!

Jikalau benar-benar kita hendak melaksanakan Manifesto Politik-

USDEK, jikalau kita benar-benar setia kepada Revolusi,

jikalau benar-benar kita setia kepada jiwa Gotong Royong,

jikalau benar-benar kita tidak kekanak-kanakan tetapi sedar benar-

benar bahwa Gotong Royong, Persatuan, Samenbundeling adalah

keharusan dalam perjuangan anti imperialisme dan kapitalisme,

maka kita harus mewujudkan persatuan antara golongan Islam,

golongan Nasional, dan golongan Komunis itu.

Maka kita tidak boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau

Nasionalisto-phobi, atau Komunisto-phobi!

“Janganlah mengira bahwa saya ini orang yang sekarang ini memberi

“angin” kepada sesuatu fihak saja.

Tidak! Saya akan bersyukur kepada Tuhan kalau saya mendapat

predikat revolusioner.

Revolusioner di masa dulu, dan revolusioner di masa sekarang.

Justru oleh karena saya revolusioner,

maka saya ingin bangsaku menang.

Dan justru oleh karena saya ingin bangsaku menang, maka dulu dan

sekarang pun saya membanting tulang mempersatukan semua tenaga

revolusioner, - Islamkah dia, Nasionalkah dia, Komuniskah dia!

“Bukalah tulisan-tulisan saya dari zaman penjajahan.

Bacalah tulisan saya panjang-lebar dalam majalah “Suluh Indonesia Muda” tahun 1926,

tahun gawat-gawatnya perjoangan menentang Belanda.

Di dalam tulisan itupun saya telah menganjurkan, dan membuktikan

dapatnya, persatuan antara Islam, Nasionalisme, dan Marxisme.

Saya membuka topi kepada Saudara Haji Muslich, tokoh alim-ulama Islam yang terkemuka,

yang menyatakan beberapa pekan yang lalu persetujuannya kepada

persatuan Islam-Nasional-Komunis itu,

oleh karena persatuan itu memang perlu,

memang mungkin,

memang dapat.”

(dikutip dari halaman 414, Di bawah Bendera Revolusi, jilid II)

Karena itu, sebagai seorang revolusioner yang memperjuangkan kepentingan

rakyat kecil, Soekarno berupaya menyempurnakan terus Marhaenisme.

Terutama semasa tahun 1930-1933 yang notabene memang merupakan pemikiran kiri yang senafas dengan Marxisme.

Marhaenisme mengangkat masalah penghisapan dan penidasan “rakyat kecil” yang terdiri dari kaum tani miskin, petani kecil, buruh miskin, pedagang kecil – kaum melarat Indonesia – yang dilakukan oleh para kapitalis, tuan-tanah, rentenir dan golongan-golongan penghisap lainnya.

Ungkapan yang sering dipakai Sukarno, dan paling terkenal sampai saat ini adalah: l’ exploitation de l’homme par l’homme” (penghisapan manusia oleh manusia).

Sosok Soekarno, seorang nasionalis berhaluan kiri, telah menggegerkan dunia dengan terselenggaranya konferensi Bandung dalam tahun 1955.

Sekarang, mungkin banyak orang yang tidak tahu, bahwa selama di bawah pimpinan Soekarno nama Indonesia mendapat tempat yang terhormat dalam berbagai konferensi internasional atau badan-badan internasional.

Terutama bagi gerakan-gerakan progresif di berbagai negeri yang melawan imperialisme dan kolonialisme waktu itu, nama Soekarno dan Indonesia merupakan sumber inspirasi perjuangan.

Semasa Perang Dingin antara Blok Timur dan Blok Barat berkecamuk hebat, Soekarno juga menggariskan politik luarnegeri bebas-aktif dan non-blok.

Soekarno adalah satu di antara para negawaran besar lainnya (Josif Broz Tito dan Jawaharlal Nehru dll) yang menjadi promotor gerakan non-blok.

Dari segi ini pula bisa dilihat kebesaran gagasan-gagasan Bung Karno dalam bidang internasional.

Bahkan keberanian dia menawarkan Pancasila sebagai alternatif ideologi ketiga melalui PBB dalam pidato berjudul To Build the World A New.

Menarik untuk dicatat bahwa mengapa PNI didirikan pada tanggal 4 Juli 1927?

Penetapan tanggal kelahiran PNI jelas bukan suatu kebetulan.

Adam Malik di buku Adam Malik Mengabdi RI pernah menjelaskan bahwa

pilihan tanggal 4 Juli itu jelas berkaitan dengan hari kemerdekaan Amerika Serikat.

Sejarah mencatat proklamasi kemerdekaan Amerika berlangsung tanggal 4 Juli 1776 di Philadelpia.

Dengan memilih 4 Juli sebagai hari berdirinya PNI, Sukarno dan pemimpin

PNI niscaya berharap semangat, siasat dan keberhasilan revolusi

kemerdekaan Amerika akan mengilhami perjuangan bangsa Indonesia

di bawah pimpinan PNI.

Hal ini juga yang kelak terlihat dalam pidato Sukarno: Membangun Dunia Kembali di PBB.

 
Dalam perjuangan ini Sukarno selalu menyerukan perlu terusnya machtvorming 
(pembentukan kekuatan) dan samenbundeling van alle revolusionaire krachten 
(persatuan bersama semua kekuatan revolusioner). 
 
Jelas gerakan yang dia lancarkan merupakan gerakan revolusioner, yang berbasis
pada kekuatan massa. 
Bukan kudeta, putch, sekedar pembrontakan sekelompok/segolongan orang. 
 
Pendapat segelintir orang yang menyatakan politik anti kolonialis / imperialisme dari 
Sukarno (1959-1965) sebagai politik avonturisme, jelas keliru. 
 
Fakta membuktikan Soekarno menentang avonturisme. 
Sebelum Gestok, Soekarno dengan lantang memperingatkan keras PKI: “Jangan 
mengobar-ngobarkan pertentangan klas”  
(Diucapkan Soekarno dalam perayaan HUT 40 PKI,  September 1965). 
 
Kalimat tersebut mempunyai arti yang dalam dan penting sekali untuk memahami visi
Sukarno tentang revolusi. 
 
Jelas tidak identik dengan pengertian revolusi berdasarkan ajaran Marxisme, 
sebab roh Pancasila – PERSATUAN -- bersemayam di dalam pengertian revolusinya. 
 
Dari kalimat peringatan tersebut Sukarno telah berusaha untuk menyetop gejala aksi yang 
kerevolusioner-revolusioneran, keradikal-radikalan, kekiri-kirian, yang akhirnya bisa 
menimbulkan tindakan avonturisme, yang akan merugikan dan membahayakan 
perjuangan mencapai Indonesia yang maju, damai, adil dan makmur.

Peringatan inilah yang kemudian berakibat Soekarno dicap memandulkan perjuangan kelas, menundukkan perjuangan klas dengan perjuangan nasional.

Padahal bagi Soekarno teori Marxisme hanya pisau analis.

Analisa historis materialisme marxis memang diterima dan diterapkan oleh Soekarno, tetapi tidak ditelan mentah begitu saja.

Dalam akhir pidato kampanye pemilu tahun 1998, Megawati mengutip kembali pesan (wasiat) ayahnya, Bung Karno, sebagai berikut:

”Anakku, simpan segala yang kau tahu. Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada Rakyat,

biarkan aku yang menjadi korban asal Indonesia tetap bersatu. Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan Rakyat dan di atas segala-galanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”.

Soekarno mengatakan Revolusi Agustus 1945 belum selesai. Tapi Hatta mengatakan 
sudah selesai. 
Bagaimanapun perbedaan mereka, cita-cita dan tujuan revolusi Agustus 1945 
mencapai masyarakat adil-makmur belum terwujud. Sejarah revolusi dunia, menunjukkan 
rejim lama yang terguling dan bangkitnya kekuasaan dan sistem politik baru tidak serta 
merta mencapai tujuan kehidupan rakyat lebih baik. 
 
Meski meyakini Revolusi Agustus 1945 belum selesai dan harus dilanjutkan terus, tapi 
konsep Sukarno tidak sama dengan konsep revolusi permanen Trotsky. Karena 
Revolusi Agustus 1945 hanya terkait dengan bangsa Indonesia dan terbatas di wilayah
 tumpah darahnya. 
 
Dalam pidato TAVIP (Tahun Vivere PericolosoLiving in the Years Dangerously) 
Soekarno menjelaskan:
“Revolusi adalah rentetan panjang dari satu retooling ke lain retooling”  
 
Soekarno lalu juga  mengatakan: “Revolusi adalah satu rentetan panjang dari satu 
konfrontasi ke lain konfrontasi”  terhadap semua perintang-perintang revolusi, 
subversi, vested interest dan konservatisme mental. Karena, “revolusi pada 
hakekatnya adalah satu perjalanan, satu proses, satu gerak”.

Sesungguhnya secara substansial tidak ada perbedaan pandangan mengenai revolusi antara Bung Karno dan Bung Hatta, kedua-duanya menghendaki terus berlangsungnya perjuangan demi terbentuknya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Namun bagi Soekarno, jelas pemilu itu tidak banyak artinya bagi masyarakat yang masih memiliki kesenjangan kelas demikian hebat.

Apalagi, jika segelintir orang yang menguasai kekayaan negeri ini sekaligus berkuasa dalam proses pemilihan.

Hak-hak politik bagi warga dengan begitu tak ada artinya sama sekali. Soekarno pernah menggambarkan demokrasi borjuis ini dengan pernyataan: "di lapangan politik rakyat adalah raja, tetapi di lapangan ekonomi tetaplah ia budak"

(Di bawah Bendera Revolusi, hal. 585).

Continue reading →

sejarah perjuangan : si revolusioner che guevara

Sosok pria ini mudah kita kenali dari kaos oblong yang sering dikenakan anak muda. Sekalipun bukan seorang artis atau selebritas, namanya cukup populer. Bahkan, dia jadi ikon pop yang memiliki banyak penggemar. Dialah Ernesto Guevara de la Serna yang dilahirkan di Rosario, Argentina, pada 14 Juni 1928. Akrab disapa dengan sebutan Che Guevara.

Sosoknya tidak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan revolusioner Kuba, dan Fidel Castro. Dia adalah salah seorang tokoh revolusi Kuba, dan diyakini sebagai orang kedua di Kuba setelah Castro.

Che berkenalan dengan Fidel Castro pada 8 Juli 1955 di Meksiko. Dia langsung mengagumi pengetahuan dan perjuangan Castro. Selain itu, dia juga menyadari bahwa Castro adalah pemimpin yang selama ini dicarinya.

Selanjutnya, Che bergabung dengan pengikut Castro di Meksiko untuk berlatih perang gerilya di rumah-rumah pertanian. Mereka dilatih secara keras dan profesional oleh Alberto Mayo, seorang kapten berkebangsaan Spanyol.

Latihan perang itu memancing kecurigaan polisi setempat. Akibatnya, Che beserta orang-orang Kuba yang tengah berlatih perang gerilya ditangkap. Untungnya, mereka dilepaskan kembali sebulan kemudian.

Memantik Api Revolusi

Pada Juni 1956, Che ditunjuk sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Selanjutnya, bersama Castro, mereka menyerbu Kuba. Che dikenal sebagai komandan yang cukup agresif dan pandai. Dia juga dianggap sebagai komandan yang paling berhasil.

Dia juga seorang yang sangat disiplin dan tegas. Dia tidak ragu untuk menembak anak buahnya yang ceroboh. Keganasan yang ditunjukkannya dalam medan pertempuran, membuat teman-temannya memanggilnya dengan sebutan "El Commandante".

Pada Maret 1958, Che dijadikan pelatih di Kamp Sierra Maestra. Di sana, dia ditugasi untuk mengajarkan taktik gerilya kepada rekruitan baru. Di tempat ini dia banyak menerima bantuan dan dukungan dari kelompok-kelompok lokal.

Di sinilah Che membentuk pasukan bunuh diri untuk melaksanakan misi gerilya yang paling sulit. Dengan taktik 'la ofensiva, Che mulai melakukan serangan besar-besaran ke Santa Clara. Revolusi menjadi lebih massif, dan pertempuran sengit mulai tersebar di seluruh Kuba timur.

Di penghujung 1958, dia mulai meraih kemenangan dalam berbagai pertempuran. Kemenangannya ini telah memaksa Presiden Fulgencio Batistia, untuk meninggalkan Kuba, pada Januari 1959. Rakyat Kuba di bawah pimpinan Castro dan Che Guevara, akhirnya memenangkan revolusi.

Setelah kemenangan ini, Che menerima kewarganegaraan Kuba pada 7 Februari 1959. Dia juga dianggap sebagai warga negara kelahiran Kuba. Selanjutnya, dia menyandang berbagai jabatan penting di Kuba. Mulai dari mengurusi militer, moneter, hingga pertanahan.

Revolusi Bolivia

Setelah mengundurkan diri dari Kabinet Castro, kabar tentangnya tidak terdengar lagi. Namun, titik terang mengenai keberadaannya mulai muncul pada 1967. Ketika itu, Menteri Pertahanan Kuba, Mayor Juan Almeida, mengumumkan bahwa Che tengah membantu menyiapkan sebuah revolusi di Bolivia.

Sayangnya, revolusi ini gagal. Pasukan Che bersama rakyat Bolivia terdesak mundur ke hutan dan kalah. Kekalahan ini disebabkan oleh banyak faktor, terutama karena Che terlalu yakin bahwa dia hanya akan bertempur melawan tentara reguler Bolivia. Dia tidak menyadari dan tidak mengantisipasi bahwa Amerika Serikat akan mengirimkan pasukan dan agen intelijen untuk mendukung pemerintah Bolivia.

Selain itu, dia juga terlalu banyak berharap bisa mendapatkan simpati luas dari rakyat Bolivia. Dia sangat berharap agar mayoritas rakyat Bolivia bersedia mendukung revolusi, seperti yang dialaminya di Kuba. Sialnya, apa yang dia bayangkan ternyata sangat jauh panggang dari api.

Akhir Perjalanan

Pada 8 Oktober 1967, Pasukan Khusus Bolivia dibantu CIA mengepung persembunyian Che di sebuah hutan di La Higuera. Dalam pengepungan itu, Che terluka dan tertangkap. Ia selanjutnya ditawan di sebuah gedung sekolah.

Pagi harinya, Presiden Bolivia Rene Barrientos memerintahkan agar Che dihukum mati hari itu juga. Karena perintah ini tanpa melalui sidang pengadilan, maka eksekusi harus dilakukan sedemikian rupa, agar terlihat Che tewas dalam pertempuran.

Mario Teran, sang algojo, lantas menghadiahkan sembilan tembakan ke tubuh Che. Maka, tubuh tokoh revolusioner Kuba ini pun ambruk bersimbah darah.

Hasta La Victoria Siempre, Commandante!

Continue reading →

Menyimak Sejarah Fidel Castro


siapa penguasa negara terlama saat ini? Siapa orator legendaris dunia yang masih hidup saat ini? Siapa presiden Dunia Ketiga yang paling berani menentang Amerika Serikat? Siapa musuh nomor wahid Amerika yang paling sulit dilenyapkan? Jawabannya hanya satu, Fidel Castro. Siapa penguasa negara terlama saat ini? Siapa orator legendaris dunia yang masih hidup saat ini? Siapa presiden Dunia Ketiga yang paling berani menentang Amerika Serikat? Siapa musuh nomor wahid Amerika yang paling sulit dilenyapkan? Jawabannya hanya satu, Fidel Castro.

Terlepas dari ideologinya, terlepas dari kekejamannya dalam menyingkirkan lawan-lawan politiknya, memang banyak hal yang pantas dicermati, bahkan dikagumi dari sosok Fidel Alejandro Castro Ruz atau lebih dikenal dengan Fidel Castro. Ketika banyak pemimpin negara di berbagai belahan bumi tunduk dan takluk kepada Amerika, Castro dengan garang malah mencercanya. Ketika banyak negara harus menggantungkan nasibnya, baik secara ekonomi, politik, maupun militer kepada negara adikuasa, Amerika Serikat, negara Kuba yang dipimpin Castro yang diembargo selama hampir setengah abad, tetap bertahan dan terus berkembang dengan segala kelebihannya.

Fidel Castro telah memerankan sejarahnya dengan caranya sendiri. Unik, keras, tegas, dan konsisten. Inilah yang membuatnya mampu bertahan sebagai pemimpin selama lebih dari 40 tahun. Barangkali, hal ini pula yang menyebabkan presiden-presiden Amerika Serikat gagal menumbangkan atau menghabisinya. Tidak mengherankan ketika Presiden George W. Bush ditanya tentang kebijakannya terhadap Kuba hanya bisa menjawab, “Saya adalah seorang presiden garis keras dan saya hanya menunggu kematian Castro.”

Beberapa bulan belakangan berbagai media massa, baik lokal, nasional, maupun internasional memberitakan bahwa Presiden Kuba, Fidel Castro, secara intens mengeluarkan pernyataan yang bernada mengkritik, menentang, bahkan menyerang Presiden Amerika Serikat, George W. Bush beserta semua kebijakan politik dan ekonominya. Apa saja komentar Castro yang dimaksud? Apa motivasi di balik semua itu? Propaganda politik, sekadar cari sensansi, atau mencari teman yang bisa membantunya mengatasi berbagai masalah yang menimpa negaranya karena embargo Amerika Serikat?

Apapun motivasinya, ucapan dan tindakan Castro telah menginspirasi banyak orang, terutama pemimpin negara-negara Amerika Latin, seperti Hugo Chaves dari Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia, untuk tidak tunduk begitu saja terhadap imperialisme modern yang bernama kapitalisme. Tidak pasrah saja dengan peperangan, pembunuhan, atau kejahatan-kejahatan sistematis oleh negara adidaya demi tatanan dunia yang bernama demokrasi dan kebebasan.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Castro ini Anda bisa menyimaknya di buku Reflections by the Commander in Chief: The Killing Machine, Fidel Castro Menentang Amerika (Refleksi 2007) Karya Fidel Castro yang diterbitkan Visimedia Pustaka. Buku tersebut merupakan terjemahan dari situs resmi Kuba, www.cuba.cu yang ditulis dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Portugis, Arab, dan Rusia ini layak dijadikan bahan bacaan para pemimpin, calon pemimpin, mahasiswa, atau masyarakat awam dengan ideology apa pun, minimal sebagai sebuah referensi dari dunia lain yang berbeda dengan dunia kita sehari-hari...
Continue reading →

1.31.2011

membuat judul blog berjalan pada addres bar

Ada banyak cara memper indah tampilan blog agar pengunjung senag melihatnya, diantaranya Membuat Tulisan Judul Blog berjalan pada Address Bar.
Adapul caranya adalah sebagai berikut:
  1. Login blogger
  2. Masuk pada halaman Edit HTML
  3. Cari kode </head> dan letakkan kode berikut di atas kode </head> tersebut
    <script type='text/javascript'>
    //<![CDATA[


    msg = " --- selamat datang di ";
    msg = " | www.kilometer12.co.cc | siap melayani anda | online-24 jam | ok.. --- " + msg;pos = 0;
    function scrollMSG() {
    document.title = msg.substring(pos, msg.length) + msg.substring(0, pos); pos++;
    if (pos > msg.length) pos = 0
    window.setTimeout("scrollMSG()",100);
    }
    scrollMSG();
    //]]>
    </script>
  4. Simpan dan liat hasil nya...
NB
  • Ganti tulisan yang berwarna merah pada kode tersebut dengan titel blog kamu atau tulisan apa saja yang kamu suka.
Continue reading →

Search This Blog

Memuat...

Blog Archive

sponsor

sponsor
klik icon untun login/pendaftaran

Followers